MONITORING HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) MENGGUNAKAN JEBAKAN KAMERA DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS, LAMPUNG

  • Ichan Prastika Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera
  • Jani Master Universitas Lampung

Abstract

Harimau sumatera merupakan satwa endemik Sumatra yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sebagai salah satu kawasan konservasi di Provinsi Lampung memiliki peran yang sangat penting berkaitan dengan harimau. Kondisi harimau sumatera saat ini kritis - critically endangered (berdasarkan data pada redlist versi 3.1 : IUCN/2001). Berkurangnya populasi harimau sumatera secara drastis dari waktu ke waktu, oleh sebab itu perlu dilakukan monitoring terhadap keberadaan satwa ini. Salah satu metode yang umum digunakan untuk memonitoring harimau sumatera di habitat alaminya adalah menggunakan kamera jebak (camera trap). Kamera jebak dipasang pada Januari – Desember 2021 kemudian dianalisa dengan menggunakan tool Jim Sanderson.  Berdasarkan hasil anaslisa diketahui bahwa tingkat perjumpaan (ER) dan indek kelimpahan relatif (RAI) harimau di TNWK adalah ER=2,43 dan RAI=2,431. Maka berdasarkan penggunaan tingkat pertemuan untuk memperlihatkan skala urutan kelimpahan kehadiran harimau pada wilayah tersebut dapat dikatakan “sering”.  Aktifitas harian harimau di TNWK berdasarkan hasil kamera jebak lebih banyak aktif pada siang hari. Berdasarkan hasil identifikasi individu, selama periode monitoring hanya ada 4 individu harimau sumatera di TNWK, yaitu 3 ekor jantan dewasa dan 1 ekor betina dewasa.

References

[1] Sanderson J and Haris G. 2013. Automatic data organization, storage, and analysis of camera trap
[2] Lekagul, B. & J.A. McNeely. 1988. Mammals of Thailand. Dharashunta Press. Thailand.
[3] Payne, J., C.M. Francis, K. Phillipps and S.N. Kartikasari. 2000. Panduan lapangan mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam. The Sabah Society dan Wildlife Conservation Society bekerjasama dengan WWF Malaysia. Jakarta.
[4] Kawanishi, K and M.E. Sunquist. 2003. Conservation status of tiger in Peninsular Malaysia. Biological Conservation 120:329-344.
[5] Kelly, M.J., A.J. Noss, M.S. Dibitetti, L. Maffei, R.L. Arispe, A. Paviolo, C.D. DeAngelo & Y. E. DiBlanco. 2003. Estimating puma densities from camera trapping across three study site: Bolivia, Argentina and Belize. Journal of Mammalogy 89(2):408-418.
[6] O’Brien, T.G., M.F. Kinnaird & H.T. Wibisono. 2003. Crouching tigers, hidden prey: Sumantran tiger and prey population in a tropical forest landscape. Animal Conservation 6:131-139.
[7] Haidir, I. A., Albert, W.R., Pinondang, I.M.R., Ariyanto, T., Widodo, F.A. dan Ardiantiono. 2017. Panduan Pemantauan Populasi Harimau Sumatera. Ditjen KSDAE, Jakarta.
[8] Priatna, D. 2012. Pola Penggunaan Ruang Dan Model Kesesuaian Habitat Harimau Sumatra(Panthera Tigris Sumatrae Pocock, 1929) Pasca Translokasi Berdasarkan Pemantauan Kalung Gps. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor . Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Published
2023-05-09
How to Cite
PRASTIKA, Ichan; MASTER, Jani. MONITORING HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) MENGGUNAKAN JEBAKAN KAMERA DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS, LAMPUNG. Seminar Nasional Konservasi, [S.l.], p. 284-288, may 2023. ISSN 3024-9023. Available at: <https://semnaskonservasi.lppm.unila.ac.id/index.php/files/article/view/57>. Date accessed: 30 nov. 2025.